KRIS SILVIATUN
NIM : E.M 11.1.0682
NIM : E.M 11.1.0682
Gaya Kepemimpinan Demokratis
Kepemimpinan demokratis menempatkan manusia
sebagai faktor utama dan terpenting dalam setiap kelompok/organisasi. Gaya
kepemimpinan demokratis diwujudkan dengan dominasi perilaku sebagai pelindung
dan penyelamat dan perilaku yang cenderung memajukan dan mengembangkan
organisasi/kelompok. Di samping itu diwujudkan juga melalui perilaku kepemimpinan
sebagai pelaksana (eksekutif).
Dengan didominasi oleh ketiga perilaku
kepemimpinan tersebut, berarti gaya ini diwarnai dengan usaha mewujudkan dan
mengembangkan hubungan manusiawi (human relationship) yang efektif, berdasarkan
prinsip saling menghormati dan menghargai antara yang satu dengan yang lain.
Pemimpin memandang dan menempatkan orang-orang yang dipimpinnya sebagai subjek,
yang memiliki kepribadian dengan berbagai aspeknya, seperti dirinya juga.
Kemauan, kehendak, kemampuan, buah pikiran, pendapat, minat/perhatian,
kreativitas, inisiatif, dan lain-lain yang berbeda-beda antara yang satu dengan
yang lain selalu dihargai dan disalurkan secara wajar.
Berdasarkan prinsip tersebut di atas, dalam gaya
kepemimpinan ini selalu terlihat usaha untuk memanfaatkan setiap orang yang
dipimpin. Proses kepemimpinan diwujudkan dengan cara memberikan kesempatan yang
luas bagi anggota kelompok/organisasi untuk berpartisipasi dalam setiap
kegiatan. Partisipasi itu disesuaikan dengan posisi/jabatan masing-masing, di
samping memperhatikan pula tingkat dan jenis kemampuan setiap anggota
kelompok/organisasi. Para pemimpin pelaksana sebagai pembantu pucuk pimpinan,
memperoleh pelimpahan wewenang dan tanggung jawab, yang sama atau seimbang
pentingnya bagi pencapaian tujuan bersama. Sedang bagi para anggota kesempatan
berpartisipasi dilaksanakan dan dikembangkan dalam berbagai kegiatan di
lingkungan unit masing-masing, dengan mendorong terwujudnya kerja sama, baik
antara anggota dalam satu maupun unit yang berbeda. Dengan demikian berarti
setiap anggota tidak saja diberi kesempatan untuk aktif, tetapi juga dibantu
dalam mengembangkan sikap dan kemampuannya memimpin. Kondisi itu memungkinkan
setiap orang siap untuk dipromosikan menduduki posisi/jabatan pemimpin secara
berjenjang, bilamana terjadi kekosongan karena pensiun, pindah, meninggal
dunia, atau sebab-sebab lain.
Kepemimpinan dengan gaya demokratis dalam
mengambil keputusan sangat mementingkan musyawarah, yang diwujudkan pada setiap
jenjang dan di dalam unit masing-masing. Dengan demikian dalam pelaksanaan
setiap keputusan tidak dirasakan sebagai kegiatan yang dipaksakan, justru
sebaliknya semua merasa terdorong mensukseskannya sebagai tanggung jawab
bersama. Setiap anggota kelompok/organisasi merasa perlu aktif bukan untuk
kepentingan sendiri atau beberapa orang tertentu, tetapi untuk kepentingan
bersama.
Aktivitas dirasakan sebagai kebutuhan dalam
mewujudkan partisipasi, yang berdampak pada perkembangan dan kemajuan
kelompok/organisasi secara keseluruhan. Tidak ada perasaan tertekan dan takut,
namun pemimpin selalu dihormati dan disegani secara wajar.
Gaya Kepemimpinan Otoriter
Kepemimpinan otoriter merupakan gaya kepemimpinan
yang paling tua dikenal manusia. Oleh karena itu gaya kepemimpinan ini
menempatkan kekuasaan di tangan satu orang atau sekelompok kecil orang yang di
antara mereka tetap ada seorang yang paling berkuasa. Pemimpin bertindak
sebagai penguasa tunggal. Orang-orang yang dipimpin yang jumlahnya lebih
banyak, merupakan pihak yang dikuasai, yang disebut bawahan atau anak buah.
Kedudukan bawahan semata-mata sebagai pelaksana keputusan, perintah, dan bahkan
kehendak pimpinan. Pemimpin memandang dirinya lebih, dalam segala hal
dibandingkan dengan bawahannya. Kemampuan bawahan selalu dipandang rendah,
sehingga dianggap tidak mampu berbuat sesuatu tanpa perintah. Perintah pemimpin
sebagai atasan tidak boleh dibantah, karena dipandang sebagai satu-satunya yang
paling benar. Pemimpin sebagai penguasa merupakan penentu nasib bawahannya.
Oleh karena itu tidak ada pilihan lain, selain harus tunduk dan patuh di bawah
kekuasaan sang pemimpin. Kekuasaan pimpinan digunakan untuk menekan bawahan,
dengan mempergunakan sanksi atau hukuman sebagai alat utama. Pemimpin menilai
kesuksesannya dari segi timbulnya rasa takut dan kepatuhan yang bersifat kaku.
Kepemimpinan dengan gaya otoriter banyak ditemui
dalam pemerintahan Kerajaan Absolut, sehingga ucapan raja berlaku sebagai
undang-undang atau ketentuan hukum yang mengikat. Di samping itu sering pula
terlihat gaya dalam kepemimpinan pemerintahan diktator sebagaimana terjadi di
masa Nazi Jerman dengan Hitler sebagai pemimpin yang otoriter.
Gaya Kepemimpinan Bebas dan Gaya Kepemimpinan Pelengkap
Kepemimpinan Bebas merupakan kebalikan dari tipe
atau gaya kepemimpinan otoriter. Dilihat dari segi perilaku ternyata gaya
kepemimpinan ini cenderung didominasi oleh perilaku kepemimpinan kompromi
(compromiser) dan perilaku kepemimpinan pembelot (deserter). Dalam prosesnya
ternyata sebenarnya tidak dilaksanakan kepemimpinan dalam arti sebagai
rangkaian kegiatan menggerakkan dan memotivasi anggota kelompok/organisasinya
dengan cara apa pun juga. Pemimpin berkedudukan sebagai simbol. Kepemimpinannya
dijalankan dengan memberikan kebebasan penuh pada orang yang dipimpin dalam
mengambil keputusan dan melakukan kegiatan (berbuat) menurut kehendak dan
kepentingan masing-masing, baik secara perseorangan maupun berupa
kelompok-kelompok kecil.
Pemimpin hanya memfungsikan dirinya sebagai
penasihat, yang dilakukan dengan memberi kesempatan untuk berkompromi atau
bertanya bagi anggota kelompok yang memerlukannya. Kesempatan itu diberikan
baik sebelum maupun sesudah anggota yang bersangkutan menetapkan keputusan atau
melaksanakan suatu kegiatan.
Kepemimpinan dijalankan tanpa berbuat sesuatu,
karena untuk bertanya atau tidak (kompromi) tentang sesuatu rencana keputusan
atau kegiatan, tergantung sepenuhnya pada orang-orang yang dipimpin. Dalam
keadaan seperti itu setiap terjadi kekeliruan atau kesalahan, maka pemimpin
selalu berlepas tangan karena merasa tidak ikut serta menetapkannya menjadi
keputusan atau kegiatan yang dilaksanakan kelompok/organisasinya. Pemimpin
melepaskan diri dari tanggung jawab (deserter), dengan menuding bahwa yang
salah adalah anggota kelompok/organisasinya yang menetapkan atau melaksanakan
keputusan dan kegiatan tersebut. Oleh karena itu bukan dirinya yang harus dan
perlu diminta pertanggungjawaban telah berbuat kekeliruan atau kesalahan.
Sehubungan dengan itu apabila tidak seorang pun
orang-orang yang dipimpin atau bawahan yang mengambil inisiatif untuk
menetapkan suatu keputusan dan tidak pula melakukan sesuatu kegiatan, maka
kepemimpinan dan keseluruhan kelompok/organisasi menjadi tidak berfungsi.
Kebebasan dalam menetapkan suatu keputusan atau melakukan suatu kegiatan dalam
tipe kepemimpinan ini diserahkan sepenuhnya pada orang-orang yang dipimpin.
Oleh karena setiap manusia mempunyai kemauan dan
kehendak sendiri, maka akan berakibat suasana kebersamaan tidak tercipta,
kegiatan menjadi tidak terarah dan simpang siur. Wewenang tidak jelas dan
tanggung jawab menjadi kacau, setiap anggota saling menunggu dan bahkan saling
salah menyalahkan apabila diminta pertanggungjawaban.
Gaya atau perilaku kepemimpinan yang termasuk
dalam tipe kepemimpinan bebas ini antara lain
1. Kepemimpinan Agitator
Tipe kepemimpinan ini diwarnai dengan kegiatan pemimpin
dalam bentuk tekanan, adu domba, memperuncing perselisihan, menimbulkan dan
memperbesar perpecahan/pertentangan dan lain-lain dengan maksud untuk
memperoleh keuntungan bagi dirinya sendiri. Agitasi yang dilakukan terhadap
orang luar atau organisasi lain, adalah untuk mendapatkan keuntungan bagi
organisasinya dan bahkan untuk kepentingan pemimpin sendiri
2. Kepemimpinan Simbol
Tipe kepemimpinan ini menempatkan seorang pemimpin
sekedar sebagai lambang atau simbol, tanpa menjalankan kegiatan kepemimpinan
yang sebenarnya.
Di samping gaya kepemimpinan demokratis, otokrasi maupun
bebas maka pada kenyataannya sulit untuk dibantah bila dikatakan terdapat
beberapa gaya atau perilaku kepemimpinan yang tidak dapat dikategorikan ke
dalam salah satu tipe kepemimpinan tersebut. Sehubungan dengan itu sekurang
kurangnya terdapat lima gaya atau perilaku kepemimpinan seperti itu. Kelima
gaya atau perilaku kepemimpinan itu adalah
1.
Gaya atau
Perilaku Kepemimpinan Ahli (Expert)
2.
Gaya atau
Perilaku Kepemimpinan Kharismatik
3.
Gaya atau
Perilaku Kepemimpinan Paternalistik
4.
Gaya atau
Perilaku Kepemimpinan Pengayom
5.
Gaya atau
Perilaku Kepemimpinan Tranformasional
KEKUASAAN
DAN KONFLIK DALAM KEPEMIMPINAN
Kekuasaan
Kekuasaan dapat didefinisikan sebagai suatu
potensi pengaruh dari seorang pemimpin. Kekuasaan seringkali dipergunakan silih
berganti dengan istilah pengaruh dan otoritas.
Berbagai
sumber dan jenis kekuasaan dari beberapa teoritikus seperti French dan Raven,
Amitai Etzioni, Kenneth W. Thomas, Organ dan Bateman, dan Stepen P Robbins
telah dikemukakan dalam kegiatan belajar ini.
Kekuasaan merupakan sesuatu yang dinamis sesuai
dengan kondisi yang berubah dan tindakan-tindakan para pengikut. Berkaitan
dengan hal ini telah dikemukakan social exchange theory, strategic contingency
theory dan proses-proses politis sebagai usaha untuk mempertahankan, melindungi
dan me-ningkatkan kekuasaan.
Dalam kaitan dengan kekuasaan, para pemimpin
membutuhkan kekuasaan tertentu agar efektif. Keberhasilan pemimpin sangat
tergantung pada cara penggunaan kekuasaan. Pemimpin yang efektif kemungkinan
akan menggunakan kekuasaan dengan cara yang halus, hati-hati, meminimalisasi
perbedaan status dan menghindari ancaman- ancaman terhadap rasa harga diri para
pengikut.
Pengaruh
Pengaruh sebagai inti dari kepemimpinan merupakan
kemampuan seseorang untuk mengubah sikap, perilaku orang atau kelompok dengan
cara-cara yang spesifik. Seorang pemimpin yang efektif tidak hanya cukup
memiliki kekuasaan, tetapi perlu pula mengkaji proses-proses mempengaruhi yang
timbal balik yang terjadi antara pemimpin dengan yang dipimpin.
Para teoretikus telah mengidentifikasi berbagai
taktik mempengaruhi yang berbeda-beda seperti persuasi rasional, permintaan
berinspirasi, pertukaran, tekanan, permintaan pribadi, menjilat, konsultasi,
koalisi, dan taktik mengesahkan. Pilihan taktik mempengaruhi yang akan
digunakan oleh seorang pemimpin dalam usaha mempengaruhi para pengikutnya
tergantung pada beberapa aspek situasi tertentu. Pada umumnya, para pemimpin
lebih sering menggunakan taktik-taktik mempengaruhi yang secara sosial dapat
diterima, feasible, memungkinkan akan efektif untuk suatu sasaran tertentu,
memungkinkan tidak membutuhkan banyak waktu, usaha atau biaya.
Efektivitas masing-masing taktik mempengaruhi
dalam usaha untuk memperoleh komitmen dari para pengikut antara lain tergantung
pada keterampilan pemimpin, jenis permintaan serta position dan personal power
pemimpin tersebut.
Konflik
Konflik dapat didefinisikan sebagai suatu proses
di mana sebuah usaha dibuat dengan sengaja oleh seseorang atau suatu unit untuk
menghalangi pihak lain yang menghasilkan kegagalan pencapaian tujuan pihak lain
atau meneruskan kepentingannya.
Ada beberapa pandangan tentang konflik yaitu
pandangan tradisional, netral dan interaksionis. Pandangan tradisional
mengatakan bahwa konflik itu negatif, pandangan netral menganggap bahwa konflik
adalah ciri hakiki tingkah laku manusia yang dinamis, sedangkan interaksionis
mendorong terjadinya konflik.
Untuk mengurangi, memecahkan dan menstimulasi
konflik ada beberapa pendekatan atau strategi yang dapat ditempuh sebagaimana
disarankan oleh beberapa teoretikus.
PERKEMBANGAN
MUTAKHIR TENTANG KEPEMIMPINAN
Kepemimpinan
Perempuan
Perubahan lingkungan dan pergeseran budaya telah
mempengaruhi dinamika kepemimpinan perempuan. Pada umumnya pemimpin perempuan
cenderung diberikan porsi pada organisasi perempuan dan sosial. Namun dengan
adanya globalisasi telah merubah paradigma kepemimpinan ke arah pertimbangan
core competence yang dapat berdaya saing di pasar global Oleh sebab itu banyak
organisasi berkaliber dunia yang memberikan kesempatan bagi perempuan yang
mampu dan memenuhi persyaratan kepemimpinan sesuai situasi dan kondisi sekarang
ini.
Hambatan bagi kepemimpinan perempuan lebih banyak
akibat adanya stereotipe negatif tentang kepemimpinan perempuan serta dari
mental (perempuan) yang bersangkutan. Stereotipe-stereotipe tersebut muncul
sebagai akibat dari pemikiran individu dan kolektif yang berasal dari latar
belakang sosial budaya dan karakteristik pemahaman masyarakat terhadap gender
serta tingkat pembangunan suatu negara atau wilayah.
Dari hasil temuan, ternyata tidak ditemukan
adanya perbedaan antara gaya kepemimpinan perempuan dengan laki-laki, walaupun
ada sedikit perbedaan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki, di mana
keunggulan dan kelemahan potensi kepemimpinan perempuan dan laki-laki merupakan
hal yang saling mengisi. Begitu juga dengan karakteristik kepemimpinan
perempuan dan laki-laki dapat disinergikan menjadi kekuatan yang harmonis bagi
organisasi yang bersangkutan.
Untuk menduduki posisi kepemimpinan dalan
organisasi di era global, perempuan perlu meningkatkan ESQ dan memperkaya
karakteristik kepemimpinannya dengan komponen-komponen, antara lain pembangunan
mental, ketangguhan pribadi dan ketangguhan sosial serta menutupi
agresivitasnya menjadi ketegasan sikap, inisiatif, dan percaya diri akan
kompetensinya
.
Kepemimpinan
dalam Beragam Budaya dan Negara
Pada kegiatan belajar ini telah Anda lihat bahwa
terdapat perbedaan mendasar dari sikap dan perilaku pemimpin pada berbagai
Negara atau budaya. Namun demikian, terdapat dimensi kepemimpinan yang secara
universal relatif sama yaitu setiap pemimpin diharapkan mampu proaktif dan
tidak otoriter. Di samping itu, terdapat pula beberapa variasi sikap dan
perilaku pemimpin di dalam kelompok budaya dan di dalam Negara pada berbagai
budaya atau Negara. Demikian pula terdapat perbedaan sikap dan perilaku
pemimpin pada Negara- Negara yang menganut system nilai berbeda.
Kepemimpinan
Visioner
Seorang pemimpin visioner harus bisa menjadi
penentu arah, agen perubahan, juru bicara dan pelatih.
Oleh
karena itu seorang pemimpin visioner harus:
1.
Menyusun
arah dan secara personal sepakat untuk menyebarkan kepemimpinan visioner ke
seluruh organisasi.
2.
memberdayakan
para karyawan dalam bertindak untuk mendengar dan mengawasi umpan balik.
3.
selalu
memfokuskan perhatian dalam membentuk organisasi mencapai potensi terbesarnya.
Kepemimpinan
Ahli
Pada era globalisasi, banyak terjadi perubahan
dalam segala sendi kehidupan masyarakat, terutama yang berhubungan dengan
bidang ekonomi perdagangan, industri, telekomunikasi dan informasi. Dalam masa
post modernism yang sekarang sedang kita jalani, perubahan paradigma manajemen
turut bergerak secara dinamis, dari paradigma manajemen klasik hingga paradigma
post modernism yang salah satunya diwakili oleh learning organization dengan
pengukuran kinerja balanced score card yang memperhitungkan pula keterkaitan
dengan lingkungan luar organisasi.
Secara historis, paradigma kepemimpinan tersebut
terbagi dalam beberapa lokus dan fokus keilmuan, yang diwakili dalam kelompok
paradigma aliran wilayah utara, barat, timur dan global baru. Hal tersebut,
dipaparkan dalam beberapa kategori, antara lain dalam kategori manajer
individual, yang terbagi menjadi manajemen efektif (Drucker), manajemen
perusahaan (Peters), manajemen kualitas total (Toyota), keahlian diri pada
bidang tertentu (self- mastery); kategori kelompok sosial terbagi menjadi
kerjasama tim yang efektif (Likert), pembagian nilai (Deal/Kennedy), siklus
atau lingkaran kualitas (Sony), sinergi sosial; kategori organisasi secara
keseluruhan yang terbagi menjadi organisasi yang hirarkis (Chandler),
organisasi jaringan (Handy) organisasi ramping (Honda), organisasi yang belajar
(learning organization), kategori ekonomi dan masyarakat yang terbagi menjadi
tanggungjawab badan hukum (Chandler), perusahaan swasta yang mandiri atau bebas
(Gilder), modal atau investasi sumber daya manusia (Ozaka) dan pembangunan yang
berkelanjutan.
Globalisasi juga telah mempengaruhi terjadinya
perubahan paradigma dalam praktik manajemen khususnya kepemimpinan. Secara
garis besar, perbedaaan antara paradigma lama dan baru dilihat dari aspek-aspek
antara lain berikut ini:
1.
Dari aspek
tanggung jawab organisasi: paradigma lama menitikberatkan pada
pertanggungjawaban organisasi tentang lingkungan akibat dari proses
input-proses-output organisasi sedangkan pada paradigma baru menekankan
tanggungjawab pada pembangunan yang berkelanjutan.
2.
Dari
aspek tim manajemen: paradigma lama menekankan struktur dan fungsi interaksi
kelompok untuk mencapai sinergi sosial dalam mengelola organisasi
masing-masing, sedangkan paradigma baru menitikberatkan pada struktur dan proses
dengan pendekatan learning organization.
3.
Dari
aspek kepemimpinan manajemen: paradigma lama menitikberatkan pada kapasitas
individual manajer dalam memimpin, sedangkan paradigma baru menekankan
keunggulan diri manajer (self-mastery) dalam memimpin.
Kesemua perjalananan dan dinamika faktor-faktor
organisasi tersebut baik eksternal maupun internal, telah membawa perubahan
paradigma kepemimpinan yang dinamis dan fleksibel. Perubahan tersebut banyak
menyangkut pada pembentukan mental pribadi manajer dan pembentukan visi manajer
serta organisasi.
APLIKASI
KEPEMIMPINAN DALAM ORGANISASI
Kepemimpinan,
Organisasi dan Perubahan Lingkungan
Ada tiga jenis perubahan yaitu perubahan rutin,
perubahan pengembangan, dan inovasi. Mengelola perubahan adalah hal yang sulit.
Ukuran kapasitas kepemimpinan seseorang salah satu diantaranya adalah
kemampuannya dalam mengelola perubahan. Kemampuan ini penting sebab pada masa
kini pemimpin, akan selalu dihadapkan pada perubahan-perubahan, sehingga
pemimpin dituntut untuk mampu menyesuaikan dengan perubahan lingkungan.
Pemimpin yang kuat bahkan mampu mempelopori
perubahan lingkungan. Ada empat tahap yang harus dilakukan agar pemimpin dapat
mengelola perubahan lingkungan. Tahap-tahap tersebut adalah pertama,
mengidentifikasi perubahan; Kedua, Menilai posisi organisasi; Ketiga,
Merencanakan dan melaksanakan perubahan; dan Keempat, Melakukan evaluasi. Untuk
memperoleh hasil yang diharapkan maka keempat langkah tersebut perlu dilakukan
secara berurutan dan berkesinambungan.
Kepemimpinan
dan Budaya Organisasi
Tugas utama seorang pemimpin adalah mengajak
orang untuk menyumbangkan bakatnya secara senang hati dan bersemangat untuk
kepentingan organisasi. Dengan demikian pemimpin atau manajer harus mengarahkan
perilaku para anggota organisasi agar tujuan organisasi dapat tercapai. Para
pemimpin perlu membentuk, mengelola, meningkatkan, dan mengubah budaya kerja
organisasi. Untuk melaksanakan tugas tersebut, manajer perlu menggunakan
kemampuannya dalam membaca kondisi lingkungan organisasi, menetapkan strategi
organisasi, memilih teknologi yang tepat, menetapkan struktur organisasi yang
sesuai, sistem imbalan dan hukuman, sistem pengelolaan sumberdaya manusia,
sistem dan prosedur kerja, dan komunikasi serta motivasi.
Salah satu cara mengembangkan budaya adalah
dengan menetapkan visi yang jelas dan langkah yang strategis, mengembangkan
alat ukur kinerja yang jelas, menindaklanjuti tujuan yang telah dicapai,
menetapkan sistem imbalan yang adil, menciptakan iklim kerja yang lebih terbuka
dan transparan, mengurangi permainan politik dalam organisasi, dan
mengembangkan semangat kerja tim melalui pengembangan nilai-nilai inti.
Kepemimpinan
dan Inovasi
Inovasi berbeda dengan kreativitas. Kreativitas
lebih berfokus pada penciptaan ide sedangkan inovasi berfokus pada bagaimana
mewujudkan ide. Karena inovasi adalah proses mewujudkan ide, maka diperlukan
dukungan dari faktor-faktor organisasional dan leaderships.
Dalam membahas inovasi paling tidak ada duabelas
tema umum yang berkaitan dengan pembahasan tentang inovasi yaitu kreativitas
dan inovasi, karakteristik umum orang-orang kreatif, belajar atau bakat,
motivasi, hambatan untuk kreatif dan budaya organisasi, struktur organisasi,
struktur kelompok, peranan pengetahuan, kreativitas radikal atau inkrimental,
struktur dan tujuan,proses, dan penilaian. Kemampuan organisasi dalam mengelola
keduabelas tema tersebut akan menentukan keberhasilannya dalam melakukan
inovasi.
Inovasi berkaitan erat dengan proses penciptaan
pengetahuan. Proses penciptaan pengetahuan dilakukan dengan melakukan observasi
atas kejadian, mengolahnya menjadi data, lalu data dijadikan informasi, dan
informasi diberikan konteks sehingga menjadi pengetahuan. Pengetahuan inilah
yang oleh pemimpin dijadikan arah atau bekal untuk melakukan inovasi.
Organisasi yang mampu secara terus menerus melakukan penciptaan pengetahuan
disebut sebagai learning organization.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar